Marketer like a Farmer

By March 14, 2015 Marketing No Comments

MarketersLikeFarmer

Seorang marketer (pemasar) sejatinya harus berpikir seperti seorang petani, karena seorang marketer berpikir secara global tidak hanya “How to Sell ?” bagaimana cara membuat sebuah produk terjual tetapi dia harus berpikir mulai apakah yang dibutuhkan pasar sampai pada “How to Retain ?” (membuat produk tersebut dibeli terus secara berkali-kali).

Pada dasarnya seorang marketer perlu berpikir dengan 5 tahapan seperti layaknya seorang Petani, yaitu:

  1. Step 1: “Prepare the Ground”, layaknya seorang Petani ketika dia ingin mulai bertani mereka tentu harus mencari lahannya dulu, sebagai seorang Petani ada 4 hal yang perlu Anda perhatikan dalam menyiapkan lahan:
    1. Tanah yang Subur” seorang Petani perlu mencari lahan yang subur, sama halnya sebagai Marketers kita perlu mempelajari pasar, dan mengetahui secara jelas apa yang dibutuhkan oleh pasar ? Sehingga kita dapat menyiapkan produk sesuai dengan permintaan.
    2. Demografi Lahan” seorang Petani perlu menentukan demografi yang sesuai dengan apa yang ditanam, beberapa jenis sayuran mereka membutuhkan sinar matahari berarti Anda perlu mencari lahan dimana sinar mataharinya terik, ada pula beberapa tanaman seperti teh membutuhan tempat yang sejuk. Sama halnya seorang Marketers dia harus menyesuaikan dengan demografi pasarnya apakah produk tersebut sesuai dengan demografi pasar. Sebagai contoh sebagai seorang Marketer jika Anda ingin memasarkan produk bir di Indonesia tentu Anda tidak bisa membidik anak sekolahan.
    3. Harga lahan” seorang Petani juga perlu berpikir sebagai Pebisnis, Petani perlu membeli lahan yang luas untuk itu Anda tidak mungkin membeli lahan dikawasan Jakarta karena harga per meter sudah puluhan bahkan ratusan juta, Anda dapat membeli dikawasan diluar Jakarta yang harga lahannya masih ratusan ribu rupiah, sehingga ROI (Return Of Invesment) dapat tercapai dalam waktu beberapa tahun. Demikian seoarang Marketers jangan masuk ke pasar yang sudah sangat Red Ocean, Anda perlu menciptakan sebuah keunikan tersendiri sehingga Anda bisa menciptakan Blue Ocean Anda sendiri.
    4. Seed” setelah lahan ada tentu Anda perlu menyiapkan bibit yang sesuai, sama seperti seorang Marketers perlu menyiapkan “Content” yang tepat sesuai dengan pasar yang dituju.
  2. Step 2: “Sow the Seed” ibarat Petani perlu menaburkan benih, seorang Marketers perlu membangun Mindset agar pasar membutuhkan produk yang sedang dia pasarkan, kita sering juga menyebut dengan membangun brand images. Disini dibutuhkan kreatifitas seoerang marketer dalam membangun cerita atau membentuk brand story (cerita dibalik sebuah brand). Saat kita berhasil menabur benih maka benih tersebut akan masuk ke alam bawah sadar pasar, sehingga brand Anda akan diingat selamanya. Contoh menabur benih antara lain:
    1. Teh Botol dengan “Apapun Makanannya Minumnya Teh Botol” karena sangat sukses sehingga sampai saat ini orang masih teringat dengan kata-kata ini.
    2. Sekarang BCA sudah mulai membangun cerita dengan menggunakan “Money and Co” artinya dia ingin mengubah images sebuah bank bahwa yang dulu bank itu adalah sebuah institusi bisnis sekarang mereka ingin mengubah images bahwa Bank adalah sahabat uang anda.
    3. Mac Donald mereka mebangun cerita “Happy Family”, dan untuk mendukung itu mereka menamai paketnya dengan kata Happy misalnya “Happy Meals”.
    4. KB sebuah program masyarakat jaman dulu, mereka membangun cerita dengan Lingkaran Biru sampai hari ini orang masih mengingatnya dengan Lingkaran Biru KB.
  3. Step 3: “Grow the Plants” Petani ketika sudah menabur tentu dia harus menumbuhkan tanaman tersebut sama halnya seorang marketers harus dapat  menciptakan action pasar untuk membeli yang tadinya hanya keinginan dialam bawah sadar pasar mereka. Dalam melakukan tahap ini sebagai Marketers perlu membuat sebuah Promo yang artinya penawaran dengan waktu terbatas. Misalnya:
    1. Kita sering menemui promo di Alfamart seperti Beli 2 Gratis 1.
    2. Ingat waktu awal We Chat masuk  ke Indonesia ketika kita jalan-jalan ke Mall, bila kita daftar maka kita dibagikan Es krim, ini adalah salah satu contoh untuk Grow the Plants.
    3. Kita bisa belajar dari handphone Xiaomi mereka menjual handphone dengan penawaran terbatas, sehingga kesannya walau murah terlihat jadi mahal karena terbatas.
  4. Step 4: “Protect the Harvest” Petani ketika sudah memanen dia tentu harus menjaga supaya tidak dimakan oleh hama, demikian seorang marketers jangan sampai kita yang sudah capek-capek menanam kemudian dimakan oleh kompetitor. Beberapa contoh marketers setelah menanam tetapi mereka tidak dapat menjaga panennya.
    1. Ingat kisah Steve Jobs waktu mendirikan Apple membangun images bahwa Personal Computer dengan fitur desktop, font bisa dipilih sendiri dan lain-lain. Karena waktu development yang terlalu lama maka kesempatan tersebut diambil oleh Bill Gates dengan komputer personal dengan harga murah.
    2. Kita seringkali melihat iklan di TV tentang minuman baru mulai dari Green Tea, Liang Teh, Yoghurt, Jus dan lain-lain. Nah ketika kita datang ke mini market untuk membeli ternyata yang ada merek lain. Untuk itu sebagai seorang Marketers Distribusi adalah faktor yang sangat penting untuk dipikirkan jangan sampai kompetitor kita yang memanen hasilnya.
  5. Step 5: “Improve the Field” sama halnya seperti seorang Petani ketika dia sukses dia akan memperluas lahannya, seorang marketers dapat memperluas lahan mereka dengan menciptakan varian dari mulai ukuran, rasa, dan lain-lain tergantung dari apa yang diinginkan oleh pasar.
    1. Menciptakan Varian ukuran kita bisa belajar dari Pocari Sweat yang tadinya hanya mulai dengan kaleng, kemudian dia menciptakan botoh, dari botol yang 500ml kemudian tumbuh lagi 1000ml, 2000ml dan mungkin kedepan mereka menciptakan ukuran Galon seperti yang ada di Jepang.
    2. Menciptakan Varian Rasa kita bisa belajar dari Tanggo yang dia terus menciptakan berbagai varian rasa mulai dari vanila, chocolate, tiramisu dan lain-lain.

Leave a Reply

GET YOUR SOLUTION RIGHT NOW CALL US